Kegunaan & Peranan Penelitian


I.                 
 Kegunaannya :     Untuk menyelidiki keadaan dari, alasan untuk, dan konsuensi terhadap suatu set keadaan khusus.

Peranannya    :     Meliputi aspek-aspek pemasaran, penerapan teknologi, alat-alat pertanian, pengangkutan serta perangsang produksi

Cara-cara menilai keuntungan (benefit) dari penelitian :

1.               Menggunakan teknik internal rate of return to investment
2.               Dengan menghitung nilai marginal dari output per dolar modal yang ditanamkan dalam penelitian

II.               Jenis-jenis Penelitian

1.               Penelitian Dasar (Basic Research)
Adalah pencarian terhadap sesuatu karena ada perhatian & keingintahuan terhadap hasil suatu aktifitas, tanpa memikirkan ujung praktis atau titik terapan.
Contohnya : Penelitian murni misalnya penelitian tentang gene, nucleus dan sebagainya

2.               Penelitian Terapan (Applied research practical research)
Adalah Penyelidikan yang hati-hati, sistematik & terus menerus terhadap suatu masalah dengan tujuan untuk digunakan dengan segera untuk keperluan tetapi hasilnya tidak perlu sebagai suatu penemuan  baru tapi merupakan aplikasi baru dari penelitian yang ada.

Lima langkah dalam pelaksanaan penelitian terapan menurut charters (1925) yang disistem oleh Whitney (1960)

1.               Sesuatu yang sedang diperlukan, dipelajari, diukur & diperiksa kelemahannya
2.               Satu dari kelemahan yang diperoleh, dipilih sebagai bahan penelitian
3.               Biasanya dilakukan pemecahan dalam laboratorium
4.               Dilakukan modifikasi sehingga penyelesaian dapat untuk diterapkan
5.               Pemecahannya dipertahankan & menempatkannya dalam satu kesatuan sehingga menjadi bagian yang permanen dari satu sistem
Contoh penelitian terapan, misal penelitian tentang pengaruh traktorisasi terhadap penyerapan tenaga kerja, pengaruh pemupukan daun terhadap tanaman jagung, dan sebagainya


 
III.              Penelitian Ilmu Sosial vs Ilmu Natura

Indikator
Sosial
Natura

-        Kompleksitas
-        Kualitas Data
-        Orientasi Penelitian
-        Objek Penelitian


-        Prediksi Hasil
-        Sumber Data

-        Posisi Penelitian terhdp objek penelitian


-        Lebih kompleks
-       Tidak Eksak
-       Orientasi Luas
-       Tidak bisa eksperimen pada sample yang terjamin ketepatannya
-       Sulit diprediksi
-       Bersandar pada daya ingat objek penelitian
-       Sangat dekat dengan objek

-     Lebih spesifik
-     Lebih kendali
-     Orientasi sempit
-     Bisadilakukan eksperimen pada sample yg terjamin ketepatnnya
-     Bisa diprediksi
-     Berdasar pada hal eksperimen sample
-     Terpisah dengan objek

IV.             Sifat-sifat (ciri) khas Penelitian (Crawford, 1928)

1.               Penelitian harus berkisar disekitar disekeliling masalah yang ingin dipecahkan
2.               Penelitian sedikitnya harus mengandung unsur-unsur orisinalitas
3.               Penelitian harus didasarkan pada pandangan  “ingin tahu”
4.               Penelitian harus berdasarkan pada asumsi bahwa suatu fenomena mempunyai hukum-hukum pengaturan (order)
5.               Penelitian berkehendak untuk menemukan generalisasi atau dalil
6.               Penelitian merupakan studi tentang sebab akibat
7.               Penelitian harus menggunakan pengukuran yang akurat
8.               Penelitian harus menggunakan teknik yang secara sadar diketahui

V.               Aktifitas Penelitian Tempo Dulu

1.               Charles Darwin dengan prinsipnya Bconian
-        Cara Penelitian sistemik (systematic inquiry)
-        Aktifitas penelitiannya secara induksi yang terpencar
-        Objek penelitiannya hewan& tumbuhan
-        Penelitiannya tanpa petunjuk hipotesis
-        Waktu penelitian lama & biayanya mahal
-        Hanya bisa dilakukan oleh orang-orang genius

2.               Charters dalam studinya tentang kurikulum
-        Menganalisa kegiatan & sifat-sifat objek penelitian untuk melihat kesulitan yang ........... sebagai suatu kesalahan yang diteliti
-        Uji cobanya pada kurikulum yang sudah terorganisir & diperbaiki di fakultas
-        Uji pronostik dilakukan di kantor & sekretarisnya disediakan

3.               Kilpatrick (1931) dalam studinya tentang generalisasi
-        Mementingkan konsep-konsep & hipotesis sebagai tindakan yang filosofis
-        Hipotesis menentukan asumsi dasar dalam kegiatan pemikiran reflektif yang digunakan
4.               T.L Kelly (1932)
-        Merumuskan pemecahan tentatif terhadap masalah
-        Metode eksperimennya dengan kontrol yang cermat

Penelitian tempo dulu bekerja berdasarkan berfikir secara reflektif ala Dewey


VI.             Syarat Utama untuk berhasilnya penelitian

1.               Syarat-syarat pelaksanaan penelitian (Somer, 1959)
-        Adanya kesadaran masyarakat
-        Harus ada sarana & pembiayaan yang cukup
-        Hasil penelitian harus dengan segera diterapkan
-        Harus ada kebebasan dalam meneliti
-        Peneliti harus mempunyai kualifikasi yang diperlukan

2.               Faktor-faktor yang menentukan agar penelitian efektif
-        Sarana & prasarana yang cukup
-        Kesiapan diri peneliti
-        Lingkungan

3.               Efisiensi penelitian bergantung pada
-        Keterampilan peneliti & teknisi
-        Organisasi penelitian serta kepimpinan dan hubungan antara unit dalam meneliti
-        Orientasi kegiatan penelitian terhadap masalah ekonomi yang dihadapi

4.               Kualifikasi peneliti harus didasarkan kepada
-        Intelengensia
-        Kekuatan bekerja
-        Sifat jujur & rajin

5.               Kriteria seorang peneliti (menurut Whitney 1960)
-        Harus mempunyai dengan nalar yang tinggi
-        Harus mempunyai daya khayal ilmiah & harus kreatif
-        Harus mempunyai daya ingat yang kuat, selalu eksentif & logis
-        Harus mempunyai kewaspadaan sebagai cepat dapat melakukan pengamatan terhadap perubahan yang terjadi atas suatu variabel atau fenomena
-        Harus mempunyai sifat kooperatif, dapat bekerjasama dengan siapapun
-        Harus sehat, baik jiwa maupun fisik
-        Kesehatan sipeneliti ditunjang oleh semangat untuk meneliti
-        Harus mempunyai kejujuran intelektual mempunyai moral yang tinggi, beriman & dapat dipercaya

Pengembangan penelitian ditentukan oleh :

1.               Tingkat pengetahuan si peneliti
2.               Keterampilan si peneliti
3.               Kualifikasi si peneliti
Boyce & Evenson 1975 membagi keterampilan dalam 4 tingkat, yaitu :

1.               Keterampilan Inventif
2.               Keterampilan Teknis (engineering)
3.               Keterampilan Teknis Ilmiah
4.               Keterampilan Ilmiah – Konseptual

[+/-] Selengkapnya...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

RUMAH Sebagai Basis PENDIDIKAN

HOME SCHOOLING

Lembaga pra sekolah dan sekolah hanya berperan sebagai partner pembantu. Tugas penting orang tua akan sangat terdukung jika mampu menciptakan suasana rumah sebagai tempat tinggal sekaligus basis pendidikan. Tugas berat memang, tetapi ada banyak cara untuk melakukannya.

Budaya Ilmiah Di Rumah

Budaya ilmiah pada anak, bisa kita mulai dari pendidikan di rumah. Budaya belajar tidak hanya ditekankan pada anak-anak, namun orang tua dan anggota keluarga lainnya harus memberikan teladan yang baik pada anak. Setiap harinya, orang-orang inipun harus belajar sebagaimana mereka mengharapkan anak-anak mereka mau belajar setiap hari.

Orang dewasa harus menunjukkan kepada anak-anak, bahwa mereka pun gemar belajar. Gairah orang tua untuk terus belajar inilah yang akan dicontoh anak, sehingga tanpa disuruh pun, anak anak senang untuk belajar. Sebaliknya, jika orang tua tidak pernah menunjukkan aktivitas belajar, tetapi selalu saja menasehati anak untuk belajar, itu hanyalah omong kosong, tidak akan mendapat perhatian dari anak.

Lestarikan Jam Baca

Membudayakan jam baca pun sangat baik dilakukan. Bisa diseragamkan waktunya untuk seluruh anggota keluarga, misalnya ba’da isya. Konsekuensinya, harus ada fasilitas buku-buku yang memadai untuk dibaca. Jangan sampai anak menjadi bosan dan terpaksa membaca apa yang tidak ia *****kan dan tidak ia sukai. Untuk keperluan ini, baik sekali jika mengajak anak rutin berkunjung ke perpustakaan untuk meminjam buku, sehingga koleksi bahan bacaan pun menjadi beragam dan menarik.

Tentu tujuan dari jam baca ini bukan untuk memaksa anak supaya belajar, akan tetapi lebih untuk menumbuhkan minat baca pada anak. Beri kesempatan mereka untuk memilih buku apa yang ingin mereka baca. Jangan paksa untuk harus membaca buku pelajaran sekolah. Dan bagi anak yang belum lancar membaca, orang tua bisa mendampinginya.

Gairah Rasa Ingin Tahu

Rasa ingin tahu pada anak akan terpancing jika mereka menerima informasi yang menarik. Orang tua bisa mengupayakan hal ini dengan menggunakan sarana media informasi.

Sebenarnya setiap bayi terlahir dengan berbekal rasa ingin tahu yang amat besar. Selanjutnya mereka berkembang menjadi anak-anak yang selalu serba ingin tahu. Pertanyaan-pertanyaan tentang segala sesuatu yang mereka temui seolah tak pernah berhenti mengalir. Fitrah ini penting untuk dipelihara dan diarahkan. Dengan kesabaran orang tua untuk terus menjawab pertanyaan dari anak, serta memancingnya dengan pertanyaan baru, inilah yang akan mempertinggi gairah rasa ingin tahu pada anak.

Rumah Sebagai Basis Pendidikan

Apabila rumah telah berhasil menjadi basis pendidikan, maka akan tercipta suasana ilmiah yang khas di dalamnya. Segala sesuatu yang berhubungan dengan pendidikan akan diistimewakan dan dihargai tinggi. Walaupun ini memerlukan dana dan usaha yang besar, sungguh ini merupakan investasi yang sangat berharga untuk masa depan anak.

Orang tua yang tahu akan kewajibannya, tidak akan lalai dalam melakukan hal ini. Perlu disadari bahwa fungsi rumah sebagai basis pendidikan ini tidak akan pernah tergantikan oleh sekolah. Salah besar jika orang tua merasa urusan pendidikan telah selesai di sekolah.

Tugas pendidikan anak yang utama tetap dipegang oleh keluarga. Berat, memang..

Tetapi insyaAllah, dengan upaya maksimal, rumah sebagai basis pendidikan ini akan banyak menolong perkembangan moral dan akal anak-anak.



Sumber:Irawati Istadi. (TArbiYAh)

[+/-] Selengkapnya...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pendidikan Anak Usia Dini


Indonesia pada tahun 1990, telah menandatangani sebuah Deklarasi Dunia tentang Pendidikan Untuk Semua (Education for All Declaration) pada konferensi UNESCO, di Thailand. Deklarasi ini menjadi komitmen bersama, untuk menyediakan pendidikan dasar yang bermutu dan non diskriminatif, di masing-masing negara. Realisasi deklarasi tersebut juga sekaligus merupakan upaya untuk memenuhi Hak Pendidikan (sesuai pasal 26 Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia/DUHAM, bahwa “Setiap orang berhak memeproleh pendidikan. Pendidikan harus Cuma-Cuma, setidak-tidaknya untuk tingkat sekolah rendah dan pendidikan dasar.Pendidikan dasar diperlukan untuk menjaga perdamaian.
Pada tahun 2003, pemerintah mengeluarkan sebuah Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menjamin hak atas “pendidikan dasar” bagi warga negara berusia tujuh hingga lima belas tahun. Namun, pendidikan untuk anak yang berusia dibawah tujuh tahun tidak dimasukkan sebagai pendidikan dasar.

Padahal, istilah pendidikan dasar seharusnya mulai berlaku mulai anak berusia 0-18 tahun. Hal ini sesuai dengan usia golden age atau keemasan anak, yaitu usia 0-9 tahun. Sedangkan menurut Konvensi Anak, yang disebut anak yaitu yang berusia 0-18 tahun. Jadi seharusnya UU mengenai Sistem Pendidikan Nasional tersebut mengakomodir usia anak dari umur 0-18 tahun tersebut.

Salah satu pemenuhan hak pendidikan sejak dini pada usia 3-5 tahun yang kemudian dilakukan masyarakat dan pemerintah yaitu program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Didalam pelaksanaannya, setiap kelurahan yang ada di Indonesia didorong untuk memiliki minimal satu PAUD. PAUD merupakan alternatif pemenuhan hak pendidikan selain Taman Kanak-Kanak (TK) atau Taman Pendidikan Alqur’an (TPA).

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2005, PAUD termasuk dalam jenis pendidikan Non Formal. Pendidikan Non Formal selain PAUD yaitu Tempat Penitipan Anak (TPA), Play Group dan PAUD Sejenis. PAUD sejenis artinya PAUD yang diselenggarakan bersama dengan program Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu untuk kesehatan ibu dan anak). Sedangkan pada Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), PAUD dimasukkan kedalam program Pendidikan Luar Sekolah (PLS).

Pada penyelenggaraan PAUD, jenis pendidikan ini tidak menggunakan kurikulum baku dari Depdiknas, melainkan menggunakan rencana pengajaran yang disebut Menu Besar. Menu Besar ini mencakup pendidikan moral dan nilai keagamaan, fisik/motorik, bahasa, sosial-emosional dan seni. Panduan dalam Menu Besar ini akan dikembangkan oleh tiap PAUD, berdasarkan kebutuhan dan kemampuan masing-masing PAUD.

Selain tidak menggunakan kurikulum baku, PAUD juga ditujukan untuk kalangan ekonomi miskin. Karena biasanya PAUD tidak menarik iuran sekolah atau menarik iuran dengan jumlah yang sangat kecil. Hal ini untuk memenuhi hak pendidikan anak, mendapatkan pendidikan dasar secara cuma-cuma (Pasal 31 Konvensi Hak Anak).

Namun di beberapa PAUD, setelah berjalan dengan tidak adanya penarikan biaya, dikarenakan biaya operasional biasanya merupakan sumbangan dari berbagai pihak di masyarakat, ternyata mengalami beberapa kendala. Misalnya sumbangan yang didapat hanya dapat memenuhi bahan belajar murid, namun hal lain seperti honor para pendidik tidak dapat terpenuhi. Padahal, para pengajar PAUD seringkali memerlukan uang transport untuk menjangkau PAUD yang dibina. Selain itu, para orangtua murid juga meminta adanya rekreasi bersama atau pemakaian baju seragam. Dan untuk kebutuhan seperti ini, PAUD seringkali tidak memiliki dana. Kemudian, beberapa PAUD akhirnya menarik iuran sekolah. Tentunya iuran ini tidak bisa besar jumlahnya, karena para murid PAUD berasal dari keluarga miskin. Rata-rata mereka mengeluarkan sekitar 1000 perhari (dengan jam belajar hanya 2-3 kali seminggu) atau 10.000 per bulan.

Pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional terutama Direktorat Jendral Pendidikan Luar Sekolah (PLS), sebetulnya sudah menyediakan dana untuk operasional PAUD. Namun dana yang ada ternyata tidak mencukupi kebutuhan operasional seluruh PAUD. Akhirnya dilakukan secara bergilir, pengguliran dana tersebut, dengan cara mengajukan proposal.
Dari masalah pembiayaan yang terjadi di PAUD tersebut, apabila berdasarkan DUHAM Pasal 26 tadi, maka akan terjadi kontradiksi. Pemenuhan hak pendidikan seharusnya gratis, namun kenyataannya belum bisa gratis. Bahwa untuk memenuhi hak pendidikan secara penuh, ternyata masih diperlukan biaya yang harus dikeluarkan oleh masyarakat. Sebetulnya, masalah seperti itu tidak harus terjadi jika pemerintah melakukan upaya-upaya pemenuhan hak pendidikan dengan maksimal.

Pertama, pemerintah seharusnya memasukkan PAUD berusia dibawah 7 tahun sebagai suatu pendidikan dasar, yang harus dipenuhi pada warganegaranya, sehingga PAUD menjadi salah satu prioritas pemenuhan pendidikan dasar sesuai UU yang berlaku. Kedua, anggaran pendidikan tersendiri, tidak disatukan dengan anggaran kesehatan dan jumlahnya seharusnya terbesar dari pengeluaran negara lainnya didalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ketiga, dialokasikannya anggaran pendidikan yang terbesar jumlahnya dari pengeluaran daerah lainnya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Keempat, pengumpulan dana pajak atau retribusi dari perusahaan-perusahaan yang berada di wilayah PAUD, yang dilakukan oleh pemerintah setempat misalnya tiap kelurahan atau desa, yang dipergunakan terutama untuk pembiayaan pendidikan dasar, baik PAUD, TK, TPA, SD, MI sampai tinkat SMP. Dan yang terakhir, pengumpulan dana swadaya masyarakat, baik dilakukan oleh LSM atau masyarakat sendiri, terutama di tujukan untuk pemenuhan pendidikan bagi warganya sendiri.

Dengan adanya kerjasama, peran serta dan kejujuran semua pihak, untuk mencerdaskan bangsa, terutama anak-anak, maka hak pendidikan tingkat dasar dapat dipenuhi secara maksimal. Kita pun dapat melihat anak-anak, dari keluarga manapun, terutama keluarga miskin, terpenuhi hak pendidikannya. Pada tingkat selanjutnya, pendidikan yang berkualitas kemudian dapat menjadi rencana bersama, setelah hak pendidikan tingkat dasar tersebut terpenuhi.


Sumber : http://www.paud.depdiknas.go.id/index.php/menu-utama/artikel/41-pendidikan-anak-usia-dini

[+/-] Selengkapnya...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pendidikan Usia Dini yang Baik Landasan Keberhasilan Pendidikan Masa Depan


Judul : Pendidikan Usia Dini yang Baik Landasan Keberhasilan Pendidikan Masa Depan
Nama & E-mail (Penulis): Drs. H. Agus Ruslan, M.MPd
Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ma'arif Bandung
Topik: Pendidikan Anak Usia Dini


Keberhasilan anak usia dini merupakan landasan bagi keberhasilan pendidikan pada jenjang berikutnya. Usia dini merupakan "usia emas" bagi seseorang, artinya bila seseorang pada masa itu mendapat pendidikan yang tepat, maka ia memperoleh kesiapan belajar yang baik yang merupakan salah satu kunci utama bagi keberhasilan belajarnya pada jenjang berikutnya.



Download disini : PAUD (pdf)

[+/-] Selengkapnya...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Prinsip Pembelajaran Kontekstual (CTL)


Pendidikan dengan basis kontekstual learning mempunyai beberapa hal dasar yang menjadi ruh pelaksanaan. Beberapa hal dasar tersebut dapat dijadikan sebagai pedoman bagaimana kita melaksanakan pendidikan dan pembelajaran dengan metode kontekstual learning. Berikut adalah prinsip-prinsip dasar pengembangan pendidikan kontekstual learning.
Prinsip Kesaling-Bergantungan (Intedependensi)
Prinsip ini membuat hubungan yang bermakna (making meaningfull connections) antara proses pembelajaran dan konteks kehidupan nyata sehingga peserta didik berkeyakinan bahwa belajar merupakan aspek yang esensial bagi kehidupan di masa datang
.
Prinsip ini mengajak para pendidik mengenali keterkaitan mereka dengan pendidik lainnya, peserta didik, stakeholder, dan lingkungannya.
Bekerjasama (collaborating) untuk membantu peserta didik belajar secara efektif dalam kelompok, membantu peserta didik untuk berinteraksi dengan orang lain, saling mengemukakan gagasan, saling mendengarkan untuk menemukan persoalan, mengumpulkan data, mengolah data, dan menentukan alternatif pemecahan masalah.
Prinsipnya menyatukan berbagai pengalaman dari masing-masing peserta didik untuk mencapai standar akademik yang tinggi (reaching high standards) melalui pengidentifikasian tujuan dan memotivasi peserta didik untuk mencapainya.
Prinsip Perbedaan (Diferensiasi)
Prinsip diferensiasi adalah mendorong peserta didik menghasilkan keberagaman, pebedaan, dan keunikan. Terciptanya kemandirian dalam belajar (self-regulated learning) yang dapat mengkontruksi minat peserta didik untuk belajar mandiri dalam konteks tim dengan mengkorelasikan bahan ajar dengan kehidupan nyata, dalam rangka mencapai tujuan secara penuh makna (meaningfullness).
Terciptanya berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking) di kalangan peserta didik dalam rangka pengumpulan, analisis, dan sintesa data, guna pemecahan masalah.
Terciptanya kemampuan peserta didik untuk mengidentifikasi potensi pribadi, dalam rangka menciptakan dan mengembangkan gaya belajar (style of learning) yang paling sesuai sehingga dapat mengembangkan potensinya seoptimal mungkin secara aktif, kreatif, efektif, inovatif, dan menyenangkan sehingga menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Prinsip Pengaturan Diri
Prinsip pengaturan diri menyatakan bahwa proses pembelajaran diatur, dipertahankan, dan disadari oleh peserta didik sendiri, dalam rangka merealisasikan seluruh potensinya. Peserta didik secara sadar harus menerima tanggung jawab atas keputusan dan perilaku sendiri, menilai alternatif, membuat pilihan, mengembangkan rencana, menganalisis informasi, menciptakan solusi dan dengan kritis menilai bukti.
Melalui interaksi antar siswa akan diperoleh pengertian baru, pandangan baru sekaligus menemukan minat pribadi, kekuatan imajinasi, kemampuan mereka dalam bertahan dan menemukan sisi keterbatasan diri.
Prinsip Penilaian Autentik (Authentic Assessment)
Penggunaan penilaian autentik, yaitu menantang peserta didik agar dapat mengaplikasikan berbagai informasi akademis baru dan keterampilannya ke dalam situasi kontekstual secara signifikan.

[+/-] Selengkapnya...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KEAJAIBAN LABA-LABA

KEAJAIBAN LABA-LABA : PRAKATA


“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”
(QS. Adh-Dhukhaan, 44: 38-39) !


Mungkin ada pembaca yang berpikir bahwa pokok bahasan buku ini tidak begitu menarik. Mereka mungkin berpendapat bahwa buku tentang serangga kecil tidak akan ada artinya bagi mereka. Lagi pula, kesibukan sehari-hari merintangi mereka untuk membaca buku semacam ini.

Namun di sisi lain, pembaca yang sama mungkin berpendapat bahwa buku riset ekonomi atau politik, atau sebuah novel, lebih menarik dan lebih "bermanfaat" bagi mereka. Atau buku-buku lain malah lebih menarik lagi. Padahal sebenarnya, buku di tangan pembaca ini jauh lebih "bermanfaat" di banding buku-buku tersebut, bahkan menyajikan lebih banyak hal. Karena buku ini bukan sekedar sebuah teks biologi yang mengulas informasi rinci mengenai hewan kecil yang disebut laba-laba. Pokok bahasannya memang laba-laba, namun yang terpenting adalah hakikat kehidupan yang diungkapkan dan pesan yang dibawanya.
Ibarat sebuah anak kunci… Sebagai benda yang berdiri sendiri, anak kunci sama sekali tidak lah penting. Jika Anda berikan kepada seseorang yang belum pernah melihatnya, dan tidak mengetahui hubungan antara anak kunci dan lubang-kunci, benda tersebut akan dianggapnya sebagai logam yang tak berarti dan tak berguna. Pada fungsi yang sebenarnya, bergantung pada apa yang ada di balik pintu, sebuah anak kunci bisa menjadi benda paling berharga di dunia.
Buku ini tidak ditulis semata-mata untuk membicarakan tentang laba-laba. Isi bahasannya akan digunakan sebagai "anak-kunci". Karena dengan anak kunci inilah pintu realitas akan terbuka. Di balik pintu ini, Anda akan menemukan kebenaran teragung di sepanjang hayat. Buku ini akan menunjukkan betapa tidak berdasarnya teori evolusi yang dikemukakan oleh mereka yang ingin menyangkal kebenaran. Buku ini juga memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyan yang diajukan sejak permulaan sejarah. Jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti "Siapa aku ini?", "Bagaimana jagat raya dan aku diciptakan?", dan "Apa tujuan serta arti dari kehidupan ini?" merupakan realitas di balik pintu ini.
Jawabannya adalah: manusia, dan jagat raya yang dihuninya, diciptakan hingga ke bagian yang terkecilnya oleh Sang Pencipta, dan mereka ada untuk menunjukkan keberadaanNya serta untuk menyembahNya. Sang Pencipta itu, yang tak memiliki cacat dan kelemahan sedikitpun serta tidak terbatas kekuasaannya, adalah Tuhan. Seperti telah dinyatakan dalam Al-Qur'an, alasan utama keberadaan manusia adalah agar memperhatikan tindak-lakunya [?] serta penciptaan jagat raya, dan untuk mengabdi kepada Tuhan, Penguasa seluruh alam.
Untuk memahami hal ini perlu ikhtiar. Sebagiannya dengan melakukan pengamatan terhadap segala sesuatu yang ada, merenungkannya, dan berusaha menangkap pesan di dalamnya. Karena segala sesuatu yang ada, dan khususnya setiap mahluk hidup di alam, merupakan tanda keberadaan Tuhan dan menjadi saksi atas keberadaanNya.
Tuhan mengajak kita merenungkan ayat Qur'an berikut ini, yang disampaikanNya untuk menunjukkan jalan yang benar kepada manusia yang diciptakanNya:
Dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, dan bahtera yang berlayar di lautan untuk kemaslahatan manusia, dan air yang dikirimkan Tuhan dari langit - yang dengannya dihidupkanNya bumi sesudah mati (kering) dan disebarkanNya berbagai jenis mahluk - dan angin serta awan yang bergerak dengan patuhnya ke berbagai arah di antara langit dan bumi; sungguh terdapat tanda-tanda bagi mereka yang menggunakan akalnya. (Surat al-Baqarah: 164)
Jika diperhatikan, pernyataan ayat Qur'an di atas nampak sebagai peristiwa yang sangat biasa bagi kebanyakan orang. Pergantian malam dan siang, bahtera yang terapung bukannya tenggelam, hujan yang memberi kehidupan kepada tanah, pergerakan angin dan awan… Manusia moderen berpendapat bahwa semuanya ini dapat dijelaskan dengan sains dan dengan menggunakan logika mekanis. Karenanya, dia berpendapat bahwa semuanya itu tidak mengherankan sedikitpun. Namun demikian, sains hanya membahas kebenaran-kebenaran material semata, dan tak pernah mampu memberikan jawaban terhadap pertanyaan "Mengapa?". Kondisi jahiliyah yang menyebar karena dominasi tatanan sosial tak beragama lah yang menghalangi orang untuk memperhatikan ayat-ayat ini, serta untuk memahami makna lain di baliknya. Sungguh, Qur'an sendiri mengatakan bahwa hakikat ayat-ayat tersebut hanya dapat difahami oleh "orang-orang yang berpikir".
Bagi "orang yang berpikir", setiap bagian alam merupakan sebuah tanda/ayat, atau dengan kata lain sebagai sebuah kunci bagi pintu kebenaran. Karena alam dapat dibagi kedalam bagian yang lebih kecil secara tak berhingga, maka jumlah pintu dan kunci pun menjadi tak berhingga pula. Namun membuka satu pintu saja terkadang cukup bagi seseorang untuk sampai kepada kebenaran. Dengan hanya mengambil satu bagian dari alam, misalnya, satu tumbuhan atau seekor hewan, akan membimbing pencari-kebenaran kepada pemahaman terhadap seluruh jagat raya. Untuk alasan inilah Tuhan menyatakan di dalam Qur'an bahwa "Tuhan tidak malu untuk membuat perumpamaan dengan seekor nyamuk atau yang lebih rendah dari itu", karena "bagi mereka yang beriman, mereka yakin bahwa perumpamaan itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka." (Surat Al-Baqarah:26)
Mahluk yang begitu kecil seperti nyamuk, juga laba-laba, disebut-sebut dalam ayat-ayat Tuhan. Namun seperti halnya terhadap nyamuk, orang-orang pada umumnya menganggap bahwa laba-laba bukan sesuatu hal yang penting. Hanya "orang-orang yang berpikir" saja yang dapat melihat keajaiban yang disampaikan ayat-ayat ini. Hewan-hewan kecil ini dapat dilihat sebagai kunci, yang dapat membuka pintu untuk melihat kesempurnaan ciptaan Tuhan. Buku ini akan menguraikan tentang karakteristik laba-laba yang menakjubkan dan luarbiasa, yang hanya diketahui oleh sedikit orang. Dalam uaraiannya, akan dibahas pula pertanyaan "bagaimana?" dan "mengapa?"-nya untuk menyingkap pintu kebenaran tersebut. Untuk alasan ini saja, buku ini menjadi lebih berarti dibanding kebanyakan buku yang telah Anda baca. Karena bagi manusia, menjadi salah satu dari "orang-orang yang berpikir" adalah lebih penting dibanding hal lainnya.
Dan Dia lah yang membuat segala yang di langit dan segala yang di bumi tunduk kepadamu. Itu semua dari Dia. Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasan Tuhan) bagi orang-orang yang berpikir. (Surat Al-Jasiyah: 13)

[+/-] Selengkapnya...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS